Minggu, 15 Desember 2013

'TUGAS KITA HANYA IKHTIAR,DOK !'


Suatu hari, saya melakukan operasi katarak terhadap seorang bapak yang berusia 60 an tahun. Hari pertama setelah operasi,perban mata dibuka, tajam penglihatan mata si pasien ( yang biasa disebut dengan 'visus' ) segera diukur. Walaupun hasilnya tidak begitu jelek, namun....,sungguh sangat mengecewakanku dan , pastilah juga, mengecewakan pasien dan keluarganya.

Seketika, perasaan cemas berkecamuk di dalam diriku. Bayangan 'menakutkan' menghantuiku hari demi hari.' 'Sudah ratusan pasien yang berhasil aku operasi, koq pasien yang ini tidak berhasil ?', kata hatiku seolah olah tidak menerima kenyataan itu.

Jumat, 13 Desember 2013

'BUMBU PENYEDAP' RUMAH TANGGA

Di tempat praktek, saya pernah kedatangan  pasien, seorang pria yang berusia sekitar 60-an tahun. Istrinya baru saja wafat beberapa bulan yang silam.

Yang agak 'aneh' buat saya ialah setiap kali saya menyebut nyebut istrinya, dia tidak bisa menahan tangisnya. Airmatanya berlinang linang tatkala dia menceritakan bagaimana istrinya selalu membahagiakan hatinya walau dia kerap menyakiti dan mengecewakannya. Rupanya, baik kenangan indah maupun derita batin yang pernah dirasakannya berdua bersama sama sang istri masih terpatri kuat di dalam benaknya. Sungguh mengharukan sekaligus menakjubkan !.

Sabtu, 30 November 2013

BURUK SANGKA

Dokter Tulus dan istrinya baru saja pulang dari 'acara' cuci mata dan berbelanja di sebuah mall di Bekasi. Di  persimpangan jalan, lampu merah menyala. Mobil yang dikenderai dokter Tulus berhenti , persis di belakang sebuah mobil berplat merah yang di tubuh sampingnya  tertulis nama sebuah instansi pemerintah.

Seorang pengemis mendekati mobil itu, dia menengadahkan kedua tangannya mengharapkan belas kasihan si pengemudi mobil. Beberapa saat kemudian, kaca mobil diturunkan, sepotong tangan menjulur keluar dengan menggenggam uang kertas limapuluh ribu. Si pengemis meraih uang itu. Wajahnya sangat bersuka cita. Dia mengucapkan terima kasih dan pergi.

Rabu, 27 November 2013

BERCENGKERAMA DENGAN PASIEN BAKSOS

‘First , do no harm’ atau -dalam bahasa Latin- ‘Primum Non Necere’ adalah sebuah prinsip medis yang harus tertanam di dalam benak dan lubuk hati para dokter tatkala melayani pasien pasiennya. Prinsip ini bermakna bahwa hal terpenting yang harus dilakukan oleh seorang dokter terhadap para pasiennya adalah berupaya sekuat mungkin -dalam mengobati pasien- untuk tidak mencederai fisik maupun mental mereka.

Buat sebagian pasien katarak yang mengikuti Bakti Sosial Operasi Katarak, misalnya, saat saat memasuki kamar operasi dirasakan sebagai saat saat yang amat menakutkan dan mengerikan. Batin mereka gelisah, fikiran menerawang entah kemana mana.

Sabtu, 23 November 2013

USTADZ SELEB..

Jangan sekali - kali memandang ustadz masa kini dengan sebelah mata. Lihatlah penampilan mereka yang amat 'kinclong' di layar kaca. Busana koko yang modis, cincin berlian melingkar di jari , jam tangan yang berkilau - kilau keemasan, berceramah sambil menenteng Ipad model terbaru. 

Mereka sering muncul di layar tv bak 'public figure'. Jama'ahnya bukan sembarang orang, ada para pimpinan BUMN, para Mentri, pejabat esolan atas sampai selebritis papan atas. Sebagian diantara ustadz masa kini bahkan menjadi model iklan, punya rumah dan  kenderaan mewah,

Umat bolehlah merasa banggga karena ustadznya tak kelihatan kere dan tak ketinggalan zaman. 'Umat Islam harus kaya, tidak boleh miskin', kata seorang ustadz masa kini di hadapan jama'ahnya. 

"Kenapa ?. Bagaimana mungkin kita membantu saudara - saudara kita yang fakir dan miskin kalau kita sendiri  miskin.  Apalagi mereka sudah sering kita zolimi dan kita lukai hatinya dengan perilaku kita  yang secara arogan mempertontonkan kekayaan dan kemewahan kita di hadapan mereka!", katanya dengan semangat menggebu - gebu.

'Sayalah yang harus berterima kasih !'


Hari pertama setelah kegiatan Bakti Sosial Operasi Katarak di sebuah kampung miskin dan terpencil. Perban penutup mata pasien dibuka.
"Terima kasih atas bantuan dokter. Sekarang saya sudah dapat melihat kembali setelah berpuluh - puluh tahun saya hidup di dalam kegelapan", ujar seorang pasien sambil menangis tersedu - sedu.
"Tidak, Bu, justru sayalah yang harus berterima kasih kepada Ibu. Ibu telah membuat saya semakin dekat dengan Tuhan", kata si dokter.

PERAMPOK DI JALAN TUHAN

http://vimeo.com/34014880
Ustadz Jalaluddin Rakmat di dalam bukunya -Do'a Bukan Lampu Aladin- mengintrodusir istilah baru, "Perampok Di Jalan Tuhan". 

Siapakah perampok di jalan Tuhan ini ?.  Mereka adalah para 'guru' atau 'ustadz' yang menawarkan pengalaman rohaniah 'instan' dan menjanjikan bisa mempertemukan kita dengan Tuhan dan para Nabi.

Dengan memanipulasi ajaran ajaran esoterik dalam setiap agama, guru itu menegaskan - sambil mengutip Rumi - 'di negeri cinta,akal digantung'.
Diktum mereka adalah 'Kalau kamu sudah kecapaian dengan logika dan angka, masuklah bersama guru ke dalam dunia rasa dan percaya. Bunuh rasionalitas dan tumbuhkan spiritualitas'.Dan, korbanpun berjatuhan !.